Daftar Blog Saya

Minggu, 17 Oktober 2010

ANALISIS KECELAKAAN MELEDAKNYA TAMBANG BATUBARA BAWAH TANAH

Korban ledakan terjadi di lubang tambang batubara di Bukit Bual/Ngalau Cigak, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat, Selasa 16 Juni 2009 pukul 10.00, bertambah.
Korban, Rizon Febri (28) akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada Jumat 19 Juni 2009 malam. Rizon meninggal setelah mendapat perawatan empat hari di RS M Djamil Padang.
“Luka bakar yang hampir di sekujur tubuh,” kata Humas RS M Djami, Dokter Irayanti pada VIVAnews, Sabtu 20 Juni 2009. Sampai hari ini total ada 33 korban tewas dalam musibah tersebut, seluruhnya adalah pekerja yang berada di lubang tambang pada saat ledakan terjadi.
Rizon adalah korban terakhir yang meninggal
Saat ini RS M Djamil Padang masih merawat satu korban ledakan tambang yang dirujuk dari RSUD Sawahlunto. “Korban adalah Syaiful (19) yang dirawat di ruangan penyakit dalam. Kondisinya berangsur-angsur membaik,” kata Irayanti.
Syaiful merupakan korban yang terjebak di lubang tambang saat berupaya mencari orang tuanya pasca ledakan terjadi. Syaiful ditemukan dalam keadaan pingsan karena menghirup udara yang bercampur dengan gas metan saat mencoba menemukan orang tuanya yang terjebak saat ledakan terjadi.
Saat ini, sebanyak 8 korban ledakan tambang masih dirawat di RS M Djamil dan RSUD Sawahlunto.Rat-rata korban yang dirawat di RSUD Sawahlunto mulai membaik dan menunggu massa pemulihan. Menurut staf humas RSUD Sawahlunto Doni Syahputra, korban yang dirawat di RSUD Sawahlunto rata-rata berada di luar areal tambang saat ledakan terjadi.
Sebelumnya, Kepala Kepala Biro Hukum dan Humas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Sutisna Prawira penyebab kecelakaan diduga akibat ledakan gas metana (CH4). Tak hanya melemparkan material hingga sejauh 150 meter, 14 orang yang berada pada jarak sekitar 50 meter dari mulut tambang juga terlempar.
Tambang maut tersebut adalah tambang milik Kuasa Pertambangan (KP) Eksploitasi batubara PT Dasrat Sarana Arang Sejati.
Sedangkan pelaksana penambangan tersebut adalah CV Cipta Perdana. Penambangan dilakukan secara manual menggunakan alat gali belincong dengan membuat lubang-lubang masuk di dalam lapisan batubara tanpa ada ventilasi memadai, hanya mengandalkan ventilasi alami.
Korban meninggal kebanyakan mengalami luka bakar atau kehabisan oksigen. Saat ledakan terjadi, api setinggi 50 meter menyembur dari lubang.

Berikut nama-nama korban menurut data RSUD Sawahlunto hingga malam ini:
1. Salman Hariadi (45)
2. Ali Baba (18)
3. Anton (28)
4. Ali Yusri (25)
5. Andre (19)
6. Haris Effendi (19)
7. Har (28)
8. Putra Yanto (28)
9. Jon Kennedy (30)
10. Arbizal (44)
11. Bustian (47)
12. Mawardi (42)
13. Indra (40)
14. Ali Amran (43)
15. Syafriadi (34)
16. Samsuwilda (35)
17. Karism S (40)
18. Benny Hariyanto (29)
19. Samsul Azis (27)
20. Nafizul Amran (38)
21. Degu Eka Putra (18)
22. Zul Effendi (40)
23. Hengki Saputra (23)
24. Arlisman (18)
25. Safi Yunadi (19)
26. Ade Putra (21)
27. Abdul Gaffar (40)
28. Bustami (46)
29. Samsul Huda (53)
30. Nasrul (45)
31. Firman (40)

Korban Dirawat di RSUD Sawahlunto:
1. Anhar (33)
2. Eko (26)
3. Erna Bakar (43) perempuan
4. Upri WS (38)
5. Edi (47)
6. Wendri (30)
7. Agung Gusmeri (26)

Korban yang dirujuk ke RSUP M Djamil Padang karena mengalami luka bakar mencapai 70 persen:
1. Rizon Febri (28)
2. Syaiful (19)
3. Nofriadi (19)

Ledakan di lubang tambang dalam ini terjadi karena reaksi gas metan dari percikan api peralatan manual yang digunakan penambang saat beraktifitas di dalam lubang tambang.

Tambang batu bara ini dikelola CV Perdana yang bekerja di lahan pertambangan milik Dasrat. Ledakan ini terjadi karena reaksi gas metan dari  percikan api yang terjadi di lubang tambang sedalam 100 meter.

ANALISIS MASALAH

Pada dasarnya Kesehatan dan Keselamata Kerja ( K3 ) sangat perlu diperhatikan karena menyangkut keselamatan jiwa pekerja baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka waktu panjang. Akan tetapi masih sering ditemui kecelakaan tambang yang merugikan pekerja bahkan sampai mengancam keselamatan hidup pekerja tersebut dan kelangsungan kegiatan penambangan. Tentunya terdapat factor-faktor penyebab kecelakaan itu. Maka itulah perlu dipelajari tentang factor-faktor penyebab kecelakaansehingga dapat diketahui pemecahan masalahnya sehingga kecelakaan dalam pekerjaan ( kegiatan penambangan ) dapat dihindari di lain waktu.
Dari contoh artikel kejadian kecelakaan di atas mengenai meledaknya tambang batubara bawah tanah yang terjadi d sawah lunto dapat di analisis factor factor penyebab kecelakaan itu. Dari segi pengetahuan K3 kecelakaan ini dapat di analisis dari factor-faktor brikut
1. Factor maanusia
Factor manusia ini melip[uti kesalahan yang terjadi yang diakibatkan oleh kesalahan manusia. Dalam kecelakaan tambang tersebut factor pengetahuan dari manusia yang sangat mendasar yang menyebabkan kecelakaan terjadi. Sekitar 18% dari korban tewas terdiri dari remaja yang berumur kurang dari 20 tahun. Di dalam usia yang masih muda pasti belum memiliki pengalaman yang banyak. Selain itu tambang tersebut di kerjakan dengan system penambangan yang manual atau alami ( tidak professional) . kurangnya pengetahuan dari para penambang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan.
Contoh lain kurangnya pengetahuan dari para penambang yaitu pada peristiwa saiful yang nekat mencari orang tuanya yang menjadi korban. Tindakan saiful tersebut sangat berbahaya karena setelah ledakan terjadi tentunya masih ada sisa sisa gas yang beracun berupa CO2 ataupun Gas metan. Tidakan berbahaya yang di dasari kurangnya pengetahuan tersebut menjadi factor yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Solusi
Uu tentang usia pekerja
Uu tentang pengetahuan /pendidikan pekerja tambang
Tidakadanya

2. Factor mesin
Factor mesin ini merupakan factor penyebab yang dsebabkan pada kesalahan dalam penggunaan peralatan atau mesin yang digunakan dalam bekerja. Pada peristiwa meledaknya tambang batubara diatas factor mesin berpengaruh besar, karena dari data yang kami peroleh pelaksanaan penambangan ini tidak memenuhi ketentuan penambangan yang baik, alat yang digunakan berupa alat sederhana yaitu belicong yang merupakan alat penambangan tradisional. Alat itu yang menyebabkan terjadinya gesekan pada batubara yang memicu adanya api, sehingga api tersebut yang membuat gas metan terbakar dan akhirnya meledak.
Tidak ada system ventilasi tambang yang baik juga menyebabkan gas metan tidak bias di alirkan ke luar. Ventilasi pada tambang di sawah lunto ini berupa lubang – lubang biasa, tidak memenuhi standar keamanan dan keselamatan proses penambangan

Solusi
1. Menghindari penggunaan mesin/ peralatan peledakan yang berbahaya. Sesuai dengan isi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2ayas (1) dan (2)Butir a yang berbunyi :
“(1)Yang diatur oleh Undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.
(2)Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat kerja di mana :
a.dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat, perkakas, peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan, kebakaran atau peledakan”

3. Factor material
Factor material ini merupakan factor bahan yang menyebabkan kecelakaan terjadi. Pade peristiwa tersebut yang menyebabkan meledaknya tambang bawa tanah. Gas metan merupakan senyawa kimia dengan rumus CH4 yang mempunyai sifat2 yang mudah terbakar.

Gas methan yang keluar dari batubara teremisi ke udara di sekitarnya. Karena gas ini lebih ringan dari udara, maka dia berada pada bahagian atas (langit-langit terowongan). Gas ini cenderung berada pada bahagian akhir lobang bukaan tambang bawah tanah (tail gate of the longwall face), lobang naik (raise end), dan bahagian atap (caved roofs).
Secara umum kebakaran dapat terjadi bila dipenuhi tiga unsur pemicu kebakaran itu, yakni adanya api, oksigen dan bahan bakar (triangle fire). Sedangkan ledakan dapat terjadi jika ada 5 syarat yang terpenuhi, yakni ada panas (heat), bahan bakar (fuel), udara (oxygen), ruang terisolasi (confinement), dan ada tahanan (suspension).

Ledakan akan timbul bila pada lokasi tersebut sedang ada awan debu batubara (debu batubara yang sedang beterbangan. Ledakan pada suatu lokasi akan memberikan getaran ke daerah tetangganya sehingga debu batubara yang tadinya terendapkan akan berhamburan pula, dan untuk selanjutnya akan terjadi lagi ledakan beruntun sampai semua bahan potensial ledakan habis terbakar dan meledak.

Bila jumlah oksigen berkurang, gas akan terbakar secara tidak sempurna menghasilkan karbon monoksida (CO) yang sangat beracun, hydrogen (H), dan air (H2O). Reaksi kimianya: CH4 + O2 = CO + H2 + H2O


Solusi
Beberapa hal yang perlu dipelajari dalam rangka pencegahan ledakan batubara ini adalah:
• Pengetahuan dasar-dasar terjadinya ledakan, membahas:
o Gas-gas dan debu batubara yang mudah terbakar/meledak
o Karakteristik gas dan debu batubara
o Sumber pemicu kebakaran/ledakan
• Metoda eliminasi penyebab ledakan, antara lain:
o Pengukuran konsentrasi gas dan debu batubara
o Pengontrolan sistem ventilasi tambang
o Pengaliran gas (gas drainage)
o Penggunaan alat ukur gas dan debu batubara yang handal
o Penyiraman air (sprinkling water)
o Pengontrolan sumber-sumber api penyebab kebakaran dan ledakan
• Teknik pencegahan ledakan tambang
o Penyiraman air (water sprinkling)
o Penaburan debu batu (rock dusting)
o Pemakaian alat-alat pencegahan standar.
• Fasilitas pencegahan penyebaran kebakaran dan ledakan, antara lain:
o Lokalisasi penambangan dengan penebaran debu batuan
o Pengaliran air ke lokasi potensi kebakaran atau ledakan
o Penebaran debu batuan agak lebih tebal pada lokasi rawan
• Tindakan pencegahan kerusakan akibat kebakaran dan ledakan:
o Pemisahan rute (jalur) ventilasi
o Evakuasi, proteksi diri, sistemperingatandini, dan penyelamatansecara tim


4. Factor SOP
Factor SOP ini merupakan factor prosedur yang harus dilakukan pada proses kerja pada penambangan. Kesalahan SOP pada proses penambangan di sawah lunto ini yaitu berupa proses penambangan yang tidak memenuhi “ good minning practice”. Ventilasi yang di buat itu tidak memenuhi prosedur . ventilasi nya berupa ventilasi alami berupa lubang- lubang sebagai jalan masuk tanpa adanya pengaturan sirkulasi udara yang baik. akibatnya gas metan tidak dapat disalurkan keluar dan mengendap d langit – langit terowongan dan terus menegndap sehingga jika terpicu oleh api akan terbakar dan meledak.
Pada proses penambangan batubara di bawah tanah sebelum bekerja harus dilakukan pengukuran kadar atau konsentrasi gas metan yang ada di dalam area penambangan, jika kadar atau konentrasi gas metan lebih dari 5% maka keadaan area tersebut sudah dikatakan DANGER atau berbahaya, Oleh karena itu kegiatan penambangan tidak boleh dilakukan. Dalam kegiatan penambangan di sawahlunto kegiatan pengukuran konsentrasi tidak dilakukan sehingga terjadi ledakan yang memakan korban jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar